Mengapa Arjuna Keluarnya Malam Hari?

Mengapa Arjuna Keluarnya Malam Hari? - Dalam pertunjukan wayang kulit dengan berbagai lakon terutama dalam kisah Mahabharata, ada seorang tokoh ksatria, biasanya adalah Arjuna yang keluarnya pada malam hari yaitu pada adegan perang kembang. Mengapa ?

Pasti ada alasannya.

Arjuna dalam kisah pewayangan adalah seorang ksatria yang tampan, rupawan dan memiliki kesaktian yang tinggi. Disamping itu, Arjuna adalah seorang yang gemar melakukan topobroto untuk menambah kesaktiannya dan mencari guru yang sakti guna menambah ilmu dan wawasannya.

Mengapa Arjuna Keluarnya Malam Hari?
Gambar : Indraprasetya76

Arjuna merupakan sosok lelaki yang sempurna, tampan dan sakti, sehingga para dewata menjulukinya sebagai 'lelananging jagad' atau lelaki terhebat di dunia.

Tapi tahukah anda apabila Arjuna juga memiliki kekurangan?

Sungguh hebat pujangga yang menciptakan tokoh Arjuna ini, beliau tidak menciptakan sosok super hero yang tanpa cela melainkan sosok manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Omong-omong apa kekurangan Arjuna?

Kekurangan Arjuna adalah sifatnya yang mata keranjang. Arjuna adalah sosok lelaki yang tidak dapat melihat jidat licin dan paha mulus atau wanita cantik. Tidak peduli masih bujangan atau sudah menjadi istri orang lain.

Padahal Arjuna sudah memiliki banyak istri yang semuanya cantik jelita dan sexy, tidak hanya dari golongan manusia saja bahkan ada 7 dewi atau bidadari yang menjadi istrinya seperti dalam kisah Arjuna Wiwaha.

Tapi kenapa Arjuna merasa masih kurang juga?

Menurut Kanjeng Sunan Kalijaga yang memasukkan syiar Islam dalam budaya wayang kulit, Arjuna adalah simbol dari nafsu 'Sufiyah' yaitu nafsu yang mencintai keindahan dan syahwat. Nafsu diibaratkan seperti minum air laut, semakin diminum akan semakin haus.

Demikian juga yang terjadi pada Arjuna, meskipun pernah kena batunya saat merebut istri Palgunadi hingga kalah dalam perang tanding yang termuat dalam kisah 'Palguna dan Palgunadi', namun Arjuna belum kapok juga mengejar wanita cantik.

Hingga, Ki Nartosabdo membuat suatu anekdot tentang perilaku Arjuna dalam hubungannya dengan wanita.

Seperti dalam judul artikel ini, yang berupa pertanyaan "mengapa dalam pementasan pertunjukkan wayang kulit, Arjuna keluarnya pada malam hari?"

Kunjungi Juga : www.ayodolenrek.com

Arjuna Keluar Pada Malam Hari

Pada babak pementasan pertunjukan wayang kulit, setelah terjadinya 'perang gagal' yaitu pertemuan antara ksatria dengan raksasa atau pandawa dengan kurawa yang berujung saling menghindar sehingga tidak jadi perang.

Maka kira-kira jam 3 malam, giliran 'perang kembang' yaitu peperangan antara ksatria, biasanya Arjuna atau bambang-bambang yang lain, melawan para raksasa seperti buto cakil, raksasa rambut geni dan lain-lain.

Makna yang tersirat sebenarnya adalah perang seorang ksatria melawan nafsunya sendiri yang diwujudkan dalam bentuk berbagai raksasa.

Namun oleh Ki Nartosabdo makna tersebut diplesetkan menjadi semacam guyonan.

Arjuna keluar pada malam hari karena ingin menyalurkan hobinya yaitu mengejar wanita cantik. Dan, keluarnya Arjuna selalu diikuti oleh empat punakawan yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

1. Semar diplesetkan menjadi 'mesem e ndek kamar'. Karena saat bertemu dengan wanita cantik, Arjuna mengajaknya ke kamar lalu 'mesam-mesem' di dalam kamar untuk merayu wanita itu.

2. Gareng menjadi 'barang sing sigare miring' atau kemaluan wanita yang menjadi sarana melakukan olah asmara.

3. Petruk menjadi 'kecepit jeruk', dalam olah asmara antara lelaki dan perempuan atau 'adu kelamin' kata orang Batak, kelamin laki-laki terjepit dalam kelamin wanita atau 'jeruk'.

4. Bagong menjadi 'obahing bokong', itulah adegan yang terjadi dalam olah asmara yaitu gerakan bokong atau pantat yang naik-turun.

Sehingga ketika Arjuna keluar pada malam hari diikuti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, dimaknai Arjuna sedang melakukan pertemuan dengan wanita lalu melakukan olah asmara.

Demikian penjelasan dan jawaban dari pertanyaan Mengapa Arjuna Keluar Pada Malam Hari? Jika anda mempunyai pendapat lain dan tidak setuju dengan isi artikel ini, silahkan isi komentar dibawah ini.

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Arjuna Wiwaha Bagian II

Arjuna Wiwaha Bagian II – Pada bagian pertama dikisahkan bagaimana kegelisahan Dewa Indra saat menerima ancaman dari Prabu Niwatakawaca yang akan menghancurkan kahyangan Suralaya apabila permintaannya untuk meminang bidadari tercantik di Suralaya yang bernama Dewi Supraba tidak diterima. Seterusnya Batara Guru mengatakan bahawa manusia yang dapat menghancurkan Prabu Niwatakawaca tersebut hanyalah seorang manusia sakti bernama Arjuna.

Arjuna Wiwaha Bagian II

Untuk menguji kesungguhan tapanya, Batara Indra mengutus tujuh bidadari cantik dari Suralaya untuk menguji kesungguhan pertapaan Arjuna di Gunung Indrakila. Akan tetapi usaha bidadari tersebut sia-sia kerana Arjuna sama sekali tidak tergoda sedikit pun daripada tapanya. Ia tidak terpengaruh dengan rayuan daripada para bidadari.

Dewi Supraba dan teman-temannya menjadi putus asa, kepada Sang Hyang Wulan, dewa bulan, Supraba menceritakan keluh kesahnya.Sang Hyang Wulan menaruh belas kasihan kepada Supraba yang putus asa itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dewa itu hanya menjawab,

“Maaf Supraba, tapa Arjuna itu memang sangat khusuk tiada banding. Ia menutup seluruh panca inderanya. Walaupun akan ada petir atau guntur, atau gunung longsor didekatnya ia tidak akan terpengaruh. Seluruh tubuhnya penuh unsur kewaspadaan. Bahkan membangunkannya pun tidak setiap dewa dapat. Jadi engkau tidak perlu kecewa Supraba.” (Sunardi D.M, 1993: 52)

Kegagalan dewi Supraba dan teman-temannya digambarkan dalambentuk puisi oleh Sanusi Pane.

Tapi Parta yang gagah perkasa tetap imannya.
Panca inderanya tidak mengindahkan yang disukainya dulu.
Mendengar melihatnya juga, tetapi tidak menjadi bimbang.
Tidak menodai kesuciannya sebentar pun jua.
Bidadari ringkasnya berputus asa.
Sudah tiga malam mereka itu menggoda terus menerus,
Tapi ia tetap tenang, diam semata.
Mereka pulang bersama-sama, Parta terlukis dalam hatinya.
(Sanusi Pane, 1960: 23).

Atas kesungguhan tapanya, Arjuna dinyatakan lulus ujian dan dihadiahi Panah Pasopati oleh Batara Guru yang digunakan dalam peperangan melawan Prabu Niwatakawaca.

Ini adalah cuplikan perbincangan antara Batara Guru yang menyamar sebagai Resi Padya dengan Arjuna.

“Memang tujuan tapaku antara lain juga mencari senjata sakti untuk digunakan dalam perang Bharata Yudha yang akan datang. Aku bertapa ini juga kerana ingin mendapatkan senjata sakti dan kesaktian dalam peperangan. Dengan senjata sakti tersebut aku ingin mengayomi jagad ini dan ingin agar para pendeta terlindungi serta terhindar dari gangguan berupa apa pun. Dengan demikian mereka dapat menyebarluaskan ajaran-ajaran utama mereka. Aku merasa mempunyai kewajiban menjaga apa yang disebut parahita, yaitu menjaga ketenteraman hati rakyat di seluruh negeri.”

Berkatalah Sang Resi Padya,
“Engkau benar-benar telah melatih dirimu untuk mencapai maksud demikian. Engkau lupa bahwa manusia hidup di dunia itu hanya sebagai wayang kulit. Jadi ada dalang yang telah menggerakkannya. Sang wayang tak dapat menggerakkan dirinya sendiri. Semua bentuk tangis, tawa, sedih, suka, percakapan, bangun, tidur, duduk, berdiri, berjalan, bahkan bangun tidur dari wayang, sang dalanglah yang mengaturnya.”

Berkatalah Raden Arjuna,
“Duh sang Resi, semua ucapanmu benar. Aku bertapa ini bukannya mencari mati. Tugasku di dunia ini masih terlampau banyak. Sebagai seorang kesatria aku harus memahami hakekat hidup ini. Sejak lahir sampai seumurku ini tentu aku telah membuat banyak membuat dosa. Adalah wajar kalau aku berikhtiar untuk mengurangi dosa tersebut. Aku sependapat denganmu bahawa manusia hidup di dunia ini ibarat seperti wayang, jadi ada dalangnya. Aku ingin mendekatkan diriku dengan Sang Dalang tersebut, agar hidupku tidak keblinger, itulah jalan untuk mengurangi dosa dan mawas diri.” (Sunardi D.M, 1993: 52)

Prabu Niwatakawaca sangatlah sakti, saat masih jejaka yang pada waktu itu masih berkedudukan sebagai seorang pangeran, ia bernama Raden Nirbita. Nirbita bermakna seseorang yang selalu takut atau seorang penakut. Kemudian ia rajin dan tekun melakukan topobroto atau bertapa.

Batara Guru atau Sang Hyang Pramesti Guru sangat memperhatikan tapa Raden Nirbita yang sangat tekun itu, sehingga ia menganugerahi suatu kekuatan batin atau daya sakti yang dinamakan Aji Gineng soka Weda. Berkat daya sakti itu ia menjadi kebal terhadap berbagai jenis senjata. Bahkan barang siapa yang memiliki kesaktian itu maka ia tak dapat dibinasakan oleh para yaksa (dewa), asura (iblis atau syaitan yang selalu memerangi manusia), yang dikepalai oleh Mahisa Sura, bahkan tidak pula oleh para Dewa.

Dengan Aji Gineng Soka Weda, Niwatakawaca dapat mengeluarkan ribuan raksasa dari dalam mulutnya sesuai dengan waktu yang dikehendakinya bahkan ia tidak dapat mati.

Setelah menjadi raja raksasa, ia memiliki kerajaan di Manikmantaka atau Imantaka yang terletak di kaki Gunung Semeru. Sang Hyang Pramesti Guru berpesan kepada Niwatakawaca agar berhati-hati dan berwaspada terhadap manusia sakti yang dapat mematikan Aji Gineng Soka Weda miliknya.

Manusia sakti yang dimaksudkan ialah Arjuna. Akan tetapi Niwatakawaca mengabaikan pesan Sang Hyang Pramesti Guru. Ia justeru lupa diri dan menjadi tamak, serakah, sombong, dan berani tidak pada tempatnya. Ia bahkan ingin menaklukan Suralaya, tempat tinggal para Dewa Dewi dan para bidadari. Ia bercita-cita untuk menaklukan Suralaya dan ingin memainkannya sewenang-wenang.

Pada akhir cerita dikisahkan bahawa Prabu Niwatakawaca mati terbunuh di tangan Arjuna kerana terkena Panah Pasopati milik Arjuna yang tepat menancap di ujung lidahnya, sebagaimana kelemahan Prabu Niwatakawaca yang terdapat pada bahagian ujung lidahnya.

Atas kemenangannya tersebut, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Suralaya selama tujuh hari (hitungan di dunia) iaitu sama dengan tujuh bulan di Suralaya. Seterusnya Batara Indra memberinya gelar Prabu Kariti yang bererti orang yang mendapatkan kemuliaan. Selain itu, Arjuna juga dinikahkan dengan tujuh bidadari tercantik di Suralaya yang sebelumnya pernah menggoda pertapaannya di Gunung Indrakila. Bidadari tersebut ialah Dewi Supraba, Dewi Wilutama, Dewi Warsiki, Dewi Surendra, Dewi Gagarmayang, Dewi Tanjung Biru, dan Dewi Lelengmulat.

Demikian kisah Arjuna Wiwaha, salah satu kisah pewayangan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia karena banyak mengandung makna dan falsafah kehidupan. Salah satu yang menjadi titik perhatian adalah keuletan dan ketangguhan Arjuna yang mampu bertahan menghadapi godaan 7 bidadari tercantik dari kahyangan. Bahkan dewa-dewa terpesona dan terpikat oleh kecantikannya sementara Arjuna pada kesehariannya adalah manusia yang suka dengan kecantikan wanita.

Ternyata Arjuna sudah membulatkan tekadnya untuk bertapa demi mendapatkan pusaka sakti dan kesaktian.

Apa hanya dengan kebulatan tekad saja Arjuna mampu menahan berbagai godaan?

Tidak hanya itu saja. Arjuna dalam kisah Arjuna Wiwaha ini digambarkan sebagai manusia yang sudah memahami hakikat diri, alam semesta dan Tuhan sehingga dapat menahan diri dari berbagai godaan.

Sumber : Abdullah Ciptoprawiro. 2000. Filsafat Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
     

Arjuna Wiwaha Bagian I

Arjuna Wiwaha Bagian I – Kisah Arjuna Wiwaha atau Pernikahan Arjuna berasal dari kakawin Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin Arjuna Wiwaha ini digubah pada tahun 1030.
Arjuna Wiwaha Bagian I
Arjuna adalah tokoh pewayangan dalam kisah Mahabharata, salah satu anggota dari Pandawa Lima yang berada ditengah sehingga dijuluki sebagai panengah Pandawa, adalah gambaran sosok ksatria tampan rupawan, memiliki kesaktian tinggi sehingga oleh para dewa diberi gelar ‘lelananging jagad’ atau lelaki paling hebat di dunia.

Arjuna adalah ksatria yang gemar bertapa untuk menambah kesaktiannya, disamping itu Arjuna merupakan idola masyarakat karena ketampanannya memiliki banyak istri, tidak hanya manusia bahkan bidadari atau dewi ada yang menjadi istrinya. Tidak tanggung-tanggung langsung 7 bidadari.

Seperti terdapat dalam kisah Arjuna Wiwaha berikut ini.

Arjuna Wiwaha Bagian I

Alkisah pada suatu masa terjadi keguncangan politik yang melanda kahyangan kaendran, milik Dewa Indra. Guncangan politik ini sangat dahsyat, sehingga sampai-sampai para dewa yang menghuni kahyangan merasakan ketakutan yang luar biasa besar, karena seorang raksasa yang sangat berkuasa dan jaya di dunia bermaksud untuk menghancurkan dan menguasai kahyangan.

Raksasa ini bernama Niwatakawaca. Dia adalah seorang raja yang bertahta di kaki Gunung Semeru. Raksasa ini sangat sakti, dan bahkan kesaktiannya melebihi kesaktian semua dewa di kahyangan. Untuk itulah seluruh penghuni kahyangan ketakutan, karena mereka merasa, bahwa sebentar lagi kahyangan akan hancur dan diluluh-lantakkan oleh Niwatakawaca. Mereka semua pasti akan dibinasakan olehnya, atau kalau pun dibiarkan hidup, mereka akan dijadikan budak.

Ketakutan ini menghantui seluruh negeri kahyangan.

Batara Indra yang berkuasa di kahyangan juga ketakutan di dalam menghadapi situasi ini. Dia takut jika Niwatakawaca mewujudkan niatnya untuk menghancurkan kahyangan. Dia telah merasa, bahwa dia akan dapat dikalahkan dengan mudah oleh Niwatakawaca oleh karena kesaktian Niwatakawaca yang tidak tertandingi. Seluruh dewa yang ada di kahyangan tidak akan mampu mengalahkan kesaktian raksasa itu.

Bukankah Batara Indra itu dewa? Bukankah dewa selalu akan menang melawan raksasa mana pun?

Mengapa Batara Indra telah merasakan, bahwa dia akan kalah melawan Raksasa Niwatakawaca? 

Jawabannya adalah karena Niwatakawaca telah mendapatkan kesaktian melebihi para dewa, bahwa dia tidak akan mati oleh dewa maupun raksasa. Untuk itulah Batara Indra sekalipun tidak akan mampu mengalahkan Niwatakawaca. Seluruh dewa tidak akan dapat mengalahkannya.

Namun demikian, sesakti-saktinya seseorang, masih ada yang dapat menandingi.

Niwatakawaca hanya dapat dikalahkan dan dibunuh oleh seorang manusia yang sakti. Dan Dewa Indra mengetahui akan hal ini, sehingga di tengah ketakutan itu, masih ada harapan yang akan diletakkan kepada ksatria yang akan mengalahkan Niwatakawaca.

Dalam ketakutannya tersebut, Batara Indra sebagai sang pemimpin di kahyangan mengadakan rapat akbar di istananya. Rapat akbar ini dihadiri oleh seluruh dewa, resi1 dan seluruh penghuni penghuni kahyangan.

Mereka semua ketakutan, jika Niwatakawaca mewujudkan maksudnya tersebut. Mereka tidak akan dapat mengalahkan Niwatakawaca, jika raksasa ini menyerang kahyangan. Batara Indra, sang pemimpin kahyangan, membuat sebuah perintah bagi seluruh penghuni kahyangan untuk mencari seorang manusia yang sakti dan didatangkan ke kahyangan, agar Sang Indra dapat minta tolong kepadanya, agar ksatria itu sudi menolong kahyangan. Di dalam rapat akbar tersebut, disebutkan nama seorang yang sakti, yang bernama Arjuna.

Saat ini Arjuna sedang bertapa di sebuah gua di puncak Indrakila yang berada di gunung Arjuna. Tujuan utama Arjuna dalam bertapa adalah untuk mendapatkan kesaktian, supaya dia dapat menang dalam peperangan. Dia ingin membela saudara-saudaranya yang saat ini berada dalam kekalahan melawan para Kurawa.

Di dalam pertapaannya, dia harus kuat menahan nafsu dan ketamakan. Jika dia tetap kuat di dalam menahan nafsu dan ketamakan, serta tetap tidak tergoda dalam memuja Dewa Siwa, maka dia akan mendapatkan anugerah kesaktian dari Dewa Siwa.

Para penghuni kahyangan, terutama Batara Indra, sangat berharap dan bergantung kepada Arjuna. Dia adalah satu-satunya harapan untuk dapat menolong kahyangan. Jika Arjuna tidak tahan dan tergoda oleh nafsu, maka pastilah akan sulit untuk mendapatkan orang yang sakti lagi.

7 Bidadari Kahyangan

Untuk itu dibuatlah sebuah keputusan dalam rapat akbar itu, bahwa akan diadakan pencobaan bagi Arjuna dalam pertapaannya.

Di kahyangan ada tujuh bidadari yang selalu berhasil di dalam menggoda nafsu para pertapa, sehingga pertapaan mereka menjadi sia-sia dan gagal. Dua di antara mereka yang sangat pandai dalam menggoda adalah dua bidadari yang bernama Tilotama dan Supraba.
Arjuna Wiwaha Bagian I
Dewi Supraba
Wajah mereka sangat cantik dan tidak ada yang mengalahkan kecantikannya. Oleh karena kecantikan mereka, para dewa senang untuk membelai-belai mereka. Oleh karena kecantikan mereka, Dewa Brahma seketika memiliki empat muka ketika melihat mereka, bahkan Dewa Indra seketika memiliki mata yang sangat banyak jumlahnya ketika memandang kecantikan mereka. Brahma dan Indra enggan berpaling memandang kecantikan para bidadari ini.

Demikianlah kecantikan ketujuh bidadari tersebut.

Ketujuh bidadari yang sangat cantik ini dipanggil ke istana Batara Indra yang sedang memimpin rapat akbar. Batara Indra memerintah mereka:

“Hai, putri-putri nan cantik. Aku akan meminjam kecantikan kalian untuk menyelidiki keteguhan hati Arjuna yang sedang bertapa. Godalah Sang Arjuna. Kalahkan dia. Namun jika kalian tidak sanggup menggodanya, berarti kalian telah kalah. Jika kalian kalah, maka pulanglah kalian ke kahyangan, anak-anakku!”

Setelah berkata demikian, ketujuh bidadari tersebut menyembah Indra dan mohon pamit. Rapat akbar itu ditutup oleh Sang Indra dengan harapan besar yang ditujukan kepada Arjuna.

Demikian kisah Arjuna Wiwaha Bagian I. Apabila anda ingin mengetahui kisah berikutnya, tunggu artikel selanjutnya.

Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti.

Kutukan Resi Sukra

Kutukan Resi Sukra - Beberapa tahun lamanya Kacha meneruskan hidupnya sebagai murid Resi Sukra, sampai tiba waktunya untuk kembali ke dunia para dewata. Ketika saat itu tiba, ia mohon diri kepada gurunya. Sang Resi merestuinya dan mengijinkannya pergi. Kemudian Kacha minta diri kepada Dewayani.


Kutukan Resi Sukra
Kutukan Resi Sukra

Putri jelita ini dengan hormat berkata,
Wahai cucu Angiras, kau telah menawan hatiku dengan kesucian hati, hidupmu yang tidak bercacat, kemajuanmu dalam menuntut ilmu, dan asal-usulmu yang agung. Sejak lama aku mencintaimu dengan sepenuh hati, walaupun engkau tetap teguh menjalankan sumpahmu sebagai brahmacharin.

Tetapi, sudah selayaknya sekarang engkau menerima cintaku dan sudi membuatku bahagia dengan menikahiku.

Kacha menjawab,
Oh, Dewayani yang suci, engkau adalah putri mahaguruku yang selalu kusegani. Aku hidup kembali setelah keluar dari tubuh ayahmu. Karena itu, aku kini menjadi saudaramu seayah. Sungguh tidak pantas jika engkau memintaku agar sudi mengawinimu.

Dewayani berkata,
Engkau anak Wrihaspati yang patut kuhormati dan bukan anak ayahku. Aku yang menyebabkan kau bisa hidup kembali, karena aku mencintaimu dan mengharapkan engkau menjadi suamiku. Tidak pantas engkau meninggalkan aku yang tidak berdosa ini tanpa memberiku kesempatan untuk mengabdi kepadamu.

Kacha menjawab,
Jangan mencoba membujukku untuk melakukan hal yang tidak benar. Engkau sungguh jelita, dan semakin jelita dalam keadaan marah seperti sekarang, tetapi aku adalah saudaramu. Abdikanlah hidupmu untuk kebajikan dalam bimbingan ayahmu, Mahaguru Sukra. Jalani hidupmu seperti dahulu. Berdoalah dan relakan aku pergi.

Setelah berkata demikian, dengan lembut Kacha melepaskan diri dari pegangan Dewayani dan kembali ke dunia para dewata.

Sepeninggal Kacha, Dewayani selalu sedih dan murung.

Tak ada yang bisa menghiburnya, tidak juga Mahaguru Sukra, ayahnya.


Dewayani dan Sarmishta

Pada suatu sore setelah puas bermain di taman istana, Dewayani dan putri-putri Wrishaparwa, raja para raksasa, pergi mandi ke telaga di tepi hutan yang jernih dan sejuk airnya.

Kutukan Resi Sukra

Dewayani dan Sarmishta


Sebelum menceburkan diri ke dalam air yang segar, mereka menanggalkan pakaian dan menyimpan pakaian itu di tepi telaga. Tiba-tiba angin putting beliung berembus kencang, menerbangkan pakaian mereka dan membuatnya menjadi satu tumpukan. Setelah mandi dan berpakaian, ternyata terjadi kekeliruan. Tanpa sengaja Sarmishta, putri Wrishaparwa, mengenakan pakaian Dewayani.

Melihat itu Dewayani berkata,
Alangkah tidak pantasnya putri seorang murid mengenakan pakaian milik putri gurunya.

Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan lembut, Sarmishta merasa disindir dan tersinggung. Ia marah dan dengan angkuh berkata,
Tidakkah engkau sadar bahwa ayahmu setiap hari dengan hinanya berlutut menyembah ayahku?

Bukankah ayahmu menggantungkan hidupnya pada belas kasihan ayahku?

Lupakah kau bahwa aku ini anak raja yang dengan murah hati memberikan tumpangan hidup bagimu dan bagi ayahmu? Hai, Dewayani, sesungguhnya kau hanya keturunan peminta-minta!
Lancang benar kata-katamu kepadaku.

Memang benar apa yang dikatakan Sarmishta. Sebagai resi atau pandeta, Mahaguru Sukra berkasta brahmana. Sesuai adat, ia hidup dari belas kasihan orang lain. Jika memerlukan sarana hidup, seorang brahmana hanya boleh meminta-minta. Meskipun demikian, sesungguhnya bagi kasta brahmana hal itu dianggap perbuatan yang mulia. Dewayani tidak menanggapi kata-kata Sarmishta.

Sebaliknya, Sarmishta yang terbakar oleh kata-katanya sendiri, menjadi semakin marah. Tak dapat mengendalikan diri, tangannya terayun, menampar pipi Dewayani. Ia bahkan mendorong putri resi itu sampai jatuh ke parit yang dalam. Sarmishta, yang mengira Dewayani sudah mati, segera kembali ke istana.

Sementara itu, Dewayani merasa cemas dan sedih karena tidak bisa keluar dari parit yang dalam itu. Kebetulan, Maharaja Yayati, seorang keturunan Bharata, sedang berburu di tepi hutan dan melewati tempat itu.

Dewayani dan Yayati

Karena haus, ia mencari air. Dilihatnya ada parit berair jernih di dekat situ. Dia turun dari kudanya, mendekati parit itu, lalu membungkuk hendak mengambil airnya.

Ketika itulah ia melihat sesuatu yang bercahaya di dasar parit. Yayati memperhatikan dengan lebih saksama dan terkejut melihat seorang putri jelita terpuruk di dalam parit.

Lalu ia bertanya,
Siapakah engkau ini, hai putri jelita dengan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah indah?
Siapakah ayahmu?
Keturunan siapakah engkau?
Bagaimana engkau bisa jatuh ke dalam parit ini?
Dewayani menjawab sambil mengulurkan tangan kanannya,
Namaku Dewayani. Aku putri Resi Sukra. Tolonglah aku keluar dari dalam parit ini.

Yayati menyambut tangan yang halus itu lalu menolong Dewayani keluar. Dewayani tidak ingin kembali ke ibukota kerajaan raksasa. Ia merasa tinggal di sana sudah tidak aman lagi, lebih-lebih jika ia ingat perbuatan Sarmishta.

Karena itu, ia berkata kepada Yayati,
Kau telah memegang tangan kanan seorang putri, berarti engkau harus menikahinya. Aku yakin, dalam segala hal kau pantas menjadi suamiku.

Yayati menjawab,
Wahai putri jelita, aku seorang kesatria dan engkau seorang brahmana. Bagaimana aku bisa mengawini engkau? Apa mungkin putri Resi Sukra yang disegani di seluruh dunia menjadi istri seorang kesatria seperti aku? Putri yang agung, kembalilah pulang.

Setelah berkata demikian, Yayati kembali ke ibukota kerajaannya.

Sepeninggal Yayati, Dewayani tetap bertekad untuk tidak pulang ke istana. Ia memilih tinggal di hutan, di bawah sebatang pohon.

Sementara itu, Resi Sukra sia-sia menunggu putrinya pulang. Beberapa hari berlalu, tetapi Dewayani tak kunjung pulang. Akhirnya Resi Sukra menyuruh seseorang mencari putri kesayangannya.

Utusan itu mencari ke mana-mana. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya dia menemukan Dewayani yang duduk di bawah sebatang pohon di tepi hutan.

Putri itu tampak sangat sedih. Matanya merah karena lama menangis. Wajahnya keruh karena marah. Utusan itu lalu bertanya, apa yang telah terjadi.

Dewayani menjawab, Kembalilah engkau dan sampaikan kepada ayahku bahwa aku tak sudi lagi menginjakkan kakiku di ibukota kerajaan Wrishaparwa.

Setelah mohon pamit, utusan itu kembali ke istana untuk melaporkan hal itu kepada Resi Sukra.

Mendengar laporan utusannya, Resi Sukra sangat sedih. Ia segera menemui anaknya dan menghiburnya sambil berkata,
Anakku sayang, kebahagiaan dan kesengsaraan seseorang merupakan akibat dari perbuatannya sendiri. Kalau kita bijaksana, kebajikan atau kejahatan orang lain tidak akan mempengaruhi kita.

Demikianlah Resi Sukra mencoba menghibur anaknya.

  • Menurut tradisi kuno yang disebut anuloma, perempuan dari kasta kesatria boleh menikah dengan laki-laki dari kasta brahmana. Tetapi, perempuan dari kasta brahmana tidak dibenarkan menikah dengan lakilaki dari kasta kesatria.

Tradisi kuno yang disebut pratilonia ini untuk menjaga agar kaum wanita tidak direndahkan derajatnya ke status kasta yang lebih rendah. Hal ini dinyatakan dalam kitab-kitab suci Sastra.

Tetapi Dewayani menjawab dengan sedih bercampur dengki,
Ayahku, biarkanlah segala kebaikan dan keburukanku bersama diriku karena semua itu urusanku sendiri.

Tetapi jawablah pertanyaanku ini. Kata Sarmishta,
anak Wrishaparwa, ayahku seorang budak penyanyi yang kerjanya hanya menyanjung-nyanjung tuannya. Benarkah?
Katanya, aku ini anak seorang peminta-minta yang hidup dari belas kasihan orang. Benarkah? Sarmishta sungguh kasar. Tidak puas mengata-ngatai aku, ia menampar dan mendorongku ke dalam parit. Aku bersumpah, aku takkan sudi hidup di wilayah kekuasaan ayahnya.

Dewayani menangis tersedu-sedu.

Dengan tenang dan penuh martabat, Mahaguru Sukra berkata,
Wahai anakku Dewayani, engkau bukan anak budak penyanyi raja. Ayahmu tidak hidup dengan meminta-minta, mengemis belas kasihan orang. Engkau putri seorang resi yang dihormati dan hidup dimanja di seluruh dunia.

Batara Indra, raja semua dewa, tahu akan hal ini. Wrishaparwa tidak membutakan mata terhadap hutang budinya kepada ayahmu. Tetapi, orang yang bijaksana tidak pernah mengagung-agungkan kebesarannya sendiri.

Sudahlah, Ayah tidak akan mengatakan apa-apa lagi tentang jasa-jasa Ayah. Bangkitlah, wahai mutiara nan kemilau. Kaulah yang paling jelita di antara semua wanita.

Engkau akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu.

Bersabarlah dan marilah kita pulang.

Tetapi Dewayani tetap berkeras tidak mau pulang.

Resi Sukra menasihatinya lagi, Sungguh mulia orang yang dengan sabar menerima caci maki. Orang yang dapat menahan amarah ibarat kusir yang mampu menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Orang yang dapat membuang amarah jauh-jauh seperti ular yang mengelupas kulitnya. Orang yang tidak gentar menerima siksaan akan berhasil mencapai cita-citanya.

Seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci, orang yang tidak pernah marah lebih mulia daripada orang yang taat melakukan upacara sembahyang selama seratus tahun. Pelayan, teman, saudara, istri, anak-anak, kebajikan dan kebenaran akan meninggalkan orang yang tak mampu mengendalikan amarahnya. Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan kata-kata anak muda ke dalam hatinya.

Mendengar itu, Dewayani bersujud menyembah ayahnya, Ayahanda, aku masih muda.

Nasihat-nasihat Ayahanda masih sulit kupahami. Tetapi, sungguh tidak pantas bagiku untuk hidup bersama orang yang tidak mengenal sopan santun. Orang yang bijaksana tidak akan bersahabat dengan orang yang selalu menjelek-jelekkan keluarganya. Orang jahat, walaupun kaya raya, sesungguhnya adalah hina dan tidak berkasta. Orang yang taat beribadah tidak pantas bergaul dengan mereka. Hatiku sangat marah karena keangkuhan anak Wrishaparwa.

Segores luka lambat laun akan sembuh, tetapi luka hati karena kata-kata tajam akan meninggalkan goresan pedih yang seumur hidup takkan hilang.

Setelah gagal membujuk putrinya untuk pulang, Resi Sukra kembali ke istana Wrishaparwa. Sampai di hadapan Raja, dengan mata tajam ia memandangnya sambil berkata, Walaupun dosa seseorang tidak akan segera mendapat balasan, lambat laun dosa itu pasti akan menghancurkan sumber kekayaannya.

Kacha, anak Wrihaspati dan seorang brahmacharin, telah menaklukkan pancaindranya dan tidak pernah berbuat dosa. Ia telah melayani aku dengan penuh kepatuhan dan tidak pernah melanggar sumpahnya. Para raksasa rakyatmu beberapa kali berusaha membunuh dia, tetapi aku menghidupkannya lagi. Kini, anakku yang memegang teguh susila dicaci-maki oleh anakmu, Sarmishta. Ia bahkan mendorong anakku sampai jatuh ke parit yang dalam. Ia tidak tahan lagi tinggal dalam lingkungan kerajaanmu. Dan karena aku tidak bisa hidup tanpa dia, aku akan pergi meninggalkan kerajaanmu.

Mendengar itu, Wrishaparwa merasa terancam malapetaka.

Ia berkata,
Aku tidak mengerti mengapa engkau melontarkan tuduhan itu. Tetapi, kalau engkau pergi aku akan terjun ke dalam api.

Resi Sukra menjawab,

Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan anakku. Aku tidak peduli nasibmu dan nasib para raksasa rakyatmu. Dewayani anakku satu-satunya, anak yang kukasihi melebihi hidupku sendiri. Engkau kuijinkan mencoba menenangkan dia dan membujuknya agar mau tetap tinggal di sini. Jika dia mau, aku tidak akan pergi.

Maka pergilah Wrishaparwa diiringkan beberapa pengawal.

Mereka hendak menemui Dewayani di tepi hutan.

Sesampainya di depan gadis itu, Wrishaparwa menyembah dan memohon agar Dewayani tidak meninggalkan kerajaannya.

Tetapi Dewayani berkata acuh tak acuh,
Sarmishta, yang mengata-ngatai aku anak pengemis harus menjadi dayang-dayang di rumahku dan harus menjadi pengiringku waktu aku dinikahkan oleh ayahku.

Wrishaparwa menerima tuntutan itu dan memerintahkan pengiringnya menjemput Sarmishta. Putri raja itu mengakui kesalahannya, lalu menyembah sambil berkata, Baiklah aku akan menjadi dayang-dayang Dewayani seperti yang dikehendakinya. Tidak seharusnya ayahku kehilangan mahagurunya dan menerima balasan atas kesalahanku.

Dewayani menerima permintaan maaf Sarmishta. Mereka berdamai dan semua kembali ke istana Wrishaparwa.

Kutukan Resi Sukra

Pada suatu hari Dewayani bertemu dengan Yayati. Ia mengulangi permintaannya dan berkata bahwa Yayati harus mengawini dia karena pernah memegang tangan kanannya erat-erat. Yayati menolak. Katanya, sebagai kesatria ia tidak dibenarkan mengawini seorang wanita berkasta brahmana. Memang kitab-kitab suci Sastra tidak membenarkan hal itu, tetapi sekali perkawinan seperti itu terjadi, tak ada yang boleh membatalkannya dan perkawinan itu sah.

Kutukan Resi Sukra


Akhirnya, setelah mendapat restu dari Resi Sukra, Yayati bersedia menikahi Dewayani. Mereka hidup berbahagia bertahun-tahun lamanya. Sarmishta menepati janjinya. Ia setia melayani Dewayani sebagai dayang-dayangnya, sampai pada suatu malam diam-diam ia menemui Yayati dan meminta pria itu mengawininya. Yayati tak kuasa menolaknya.

Diam-diam Sarmishta dijadikan istrinya.

Ketika mengetahui hal itu, Dewayani marah sekali. Ia mengadu kepada ayahnya. Resi Sukra berang, lalu mengutuk Yayati menjadi orang tua ubanan sebelum waktunya dan pria itu akan kehilangan masa mudanya.

Mengetahui dirinya dikutuk mertuanya yang sangat sakti, Yayati takut sekali. Ia pergi menghadap Resi Sukra, menyembah dan memohon ampun. Tetapi, Mahaguru Sukra belum lupa akan penghinaan yang pernah diterima anaknya.

Resi Sukra berkata,

Wahai, Tuanku Raja, engkau akan kehilangan masa mudamu dan kemegahanmu. Kutukpastu yang telah kulontarkan tak dapat dibatalkan.

Tetapi, engkau bisa minta tolong seseorang yang bersedia menukar ketuaanmu dengan kemudaannya. Hal ini bisa terjadi.
Demikianlah, sejak menerima kutukan mertuanya, Yayati berubah menjadi lelaki tua renta yang kehilangan keperkasaannya.

Ilmu Gaib Sanjiwani Bagian II

Ilmu Gaib Sanjiwani Bagian II -  Pada bagian sebelumnya dikisahkan jika Kacha yang sedang menuntut ilmu gaib Sanjiwani kepada Brahmana Sukra mendapat tantangan dari sikap benci para raksasa yang mencurigai niatnya mempelajari ilmu tersebut untuk mengalahkan mereka sehingga raksasa-raksasa itu membunuhnya. Sudah dua kali Kacha terbunuh namun dua kali juga Resi Sukra menghidupkannya kembali.

Para raksasa semakin geram. Ketika ada kesempatan, untuk ketiga kalinya mereka membunuh Kacha. Dengan cerdik mereka membakar mayatnya, lalu mencampurkan abunya ke dalam minuman anggur yang mereka persembahkan kepada Resi Sukra. Tanpa curiga, pemimpin mereka meminum anggur itu.

Ilmu Gaib Sanjiwani Bagian II
Resi Sukra dan Dewayani, sumber gambar : Renungan Diri

Sore harinya, sapi-sapi itu pulang kandang tanpa gembalanya. Sekali lagi Dewayani menghadap ayahnya, menangis dan memohon agar ayahnya memanggil dan menghidupkan kembali Kacha.

Resi Sukra menghibur anaknya, Walaupun Ayah sudah dua kali menghidupkan Kacha, rupa-rupanya para raksasa sudah bertekad membunuhnya.

Wahai, Anakku, kematian adalah hal biasa. Sungguh tidak pantas orang yang berjiwa besar seperti engkau menangisi kematiannya. Nikmatilah hidupmu yang dilimpahi berkah kegembiraan, kecantikan dan kemurahan hati serta penuh damai di dunia.

Dewayani tak merasa terhibur oleh kata-kata ayahnya. Ia sangat mencintai Kacha.

Demikianlah, sejak dunia tercipta, nasihat resi yang paling bijaksana pun tak pernah bisa menghilangkan duka hati seorang wanita yang kehilangan kekasihnya.

Dewayani berkata,
Kacha, cucu Angiras dan putra Wrihaspati adalah pemuda yang tidak berdosa. Ia telah menyerahkan diri untuk melayani kita. Aku mencintainya sedalam lubuk hatiku. Tetapi sekarang ia mati dibunuh. Hidupku menjadi hampa dan tanpa cinta. Karena itu, wahai Ayahanda, aku akan mengikutinya. 

Setelah berkata demikian, Dewayani berpuasa, tidak makan dan tidak minum.

Keberhasilan Kacha Menguasai Ilmu Gaib Sanjiwini

Resi Sukra tak tega melihat putri kesayangannya berduka. Ia marah kepada para raksasa yang telah membunuh Kacha. Pembunuhan terhadap brahmana adalah dosa terkutuk. Mereka pasti akan mendapat balasan yang setimpal.

Sekali lagi Resi Sukra mempergunakan ilmu gaib Sanjiwani untuk menghidupkan Kacha. Sekali lagi Kacha hidup kembali dari anggur yang sudah masuk ke lambung sang Mahaguru. Tetapi ia tidak bisa keluar karena berada di tempat yang sangat aneh. Ia hanya dapat menjawab dengan menyebutkan namanya dan mengatakan tempat ia berada.

Mendengar itu, Resi Sukra berkata dengan berang,
Hai, Brahmacharin, bagaimana engkau bisa masuk ke dalam tubuhku? Apakah karena perbuatan para raksasa? Sungguh keterlaluan. Ingin rasanya aku membunuh semua raksasa dan menyatukan diriku dengan para dewata. Tetapi, sebelum itu kulakukan, ceritakan dulu semuanya kepadaku.

Dengan susah payah, dari dalam lambung Resi Sukra, Kacha menceritakan apa yang dialaminya.

Resi mahasakti itu menyahut,
Kini aku, Resi Sukra yang suci, luhur budi, dan termasyhur, menjadi geram karena ditipu dengan persembahan minuman anggur.

Karena itu, demi kebajikan dan peri kemanusiaan, kuperingatkan bahwa kesucian dan keluhuran budi akan meninggalkan siapa pun yang meminum anggur dengan tidak bijaksana. Orang yang demikian akan terkutuk.

Demikian pesanku dan hal ini akan dinyatakan dalam kitab-kitab suci sebagai larangan yang tak boleh dilanggar.

Setelah berkata demikian, Resi Sukra memandang Dewayani sambil berkata,
Anakku sayang, sekarang engkau harus memilih. Kalau kau ingin Kacha hidup kembali, ia harus keluar dari dalam tubuhku dan itu berarti kematian bagiku. Ia hanya bisa hidup di atas kematianku.

Dewayani menangis tersedu-sedu sambil berkata,
Oh Dewata, sungguh pilihan yang tak mungkin kupilih. Aku sangat menyayangi Ayahanda dan Kacha. Jika salah satu dari kalian mati, aku akan mati. Aku tak sanggup hidup tanpa kalian berdua.

Sambil mencari jalan untuk menyelesaikan masalah berat itu, Resi Sukra berkata kepada Kacha,
Wahai putra Wrihaspati, sekarang aku tahu apa sesungguhnya niatmu datang berguru kepadaku. Kau akan memperoleh apa yang kauinginkan. Aku akan menghidupkan kau kembali demi Dewayani dan demi dia pula aku tidak boleh mati.

Satu-satunya jalan adalah mengajarkan ilmu gaib Sanjiwini kepadamu. Dengan menguasainya, kau akan bisa menghidupkan aku kembali meskipun tubuhku hancur setelah mengeluarkan engkau. Berjanjilah untuk menggunakan ilmu gaib Sanjiwini yang akan kuajarkan kepadamu untuk menghidupkan aku kembali, agar Dewayani tidak berduka atas kematian salah satu dari kita.

Dari dalam lambung gurunya, Kacha mengucapkan janjinya.

Demikianlah, Mahaguru Sukra memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwini kepada Kacha. Seketika itu juga Kacha keluar dari dalam tubuh gurunya, sementara sang Resi langsung rubuh, wafat dengan tubuh hancur berkepingkeping.

Kacha memenuhi janjinya. Ia segera sujud di depan jenazah gurunya dan mempergunakan ilmu gaib Sanjiwani. 

Katanya,
Guru yang ikhlas membagi ilmu kepada muridnya ibarat seorang ayah yang mengasihi putranya. Karena aku keluar dari tubuhmu, maka aku adalah anakmu juga.
Demikian kisah tentang Ilmu Gaib Sanjiwani Bagian II.

Kisah Ilmu Gaib Sanjiwani Bagian I

Kisah Ilmu Gaib Sanjiwani Bagian I – Adalah ilmu kesaktian yang dimiliki Mahaguru Sukra dengan kemampuan menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Kisah tentang Ilmu gaib Sanjiwani adalah kisah pewayangan dari India pada awal sebelum terjadinya kisah Ramayana dan Mahabharata.
Kisah Ilmu Gaib Sanjiwani Bagian I
Gambar : Wikipedia

Kehebatan Ilmu Gaib Sanjiwani

Pada jaman dahulu kala, sering terjadi pertempuran-pertempuran panjang dan sengit antara para dewata dengan para raksasa. Mereka berebut ingin menguasai ketiga dunia. Para dewata dipimpin seorang resi bernama Wrihaspati yang sangat terkenal karena pengetahuannya yang mendalam tentang kitab-kitab Weda, sedangkan para raksasa dipimpin Mahaguru Sukra yang arif bijaksana.

Wrihaspati dan Sukra sama-sama ahli perang yang sangat termasyhur. Tetapi, Sukra memiliki keunggulan yang sangat mengerikan, yaitu ilmu gaib Sanjiwani yang dapat menghidupkan siapa saja yang sudah mati. Jadi, setiap kali ada raksasa mati di medan pertempuran, Sukra dapat menghidupkannya lagi.

Begitu berkali-kali, sehingga jumlah mereka tak pernah berkurang dan mereka dapat melanjutkan perang melawan para dewata. Akibatnya, para dewata selalu kalah melawan para raksasa.

Akhirnya, para dewata berunding, mencari akal untuk mengalahkan para raksasa. Diputuskanlah untuk menemui Kacha, putra Wrihaspati, dan meminta bantuannya.

Mereka berharap Kacha bisa menawan hati Sukra dan membujuknya agar ia diijinkan menjadi murid mahaguru itu. Dengan menjadi murid Sukra, para dewata berharap Kacha bisa menguasai ilmu gaib Sanjiwani, dengan cara mulia atau cara curang, sehingga para dewata bisa terhindar dari kekalahan terus-menerus.

Kacha menyanggupi permintaan para dewata itu. Ia lalu pergi menghadap Mahaguru Sukra yang tinggal di istana Raja Wrishaparwa, raja para raksasa.

Upaya Kacha Mempelajari Ilmu Gaib Sanjiwani

Sampai di hadapan mahaguru itu, Kacha memberi salam hormat lalu berkata, Hamba ini cucu Resi Angiras dan anak Resi Wrihaspati. Hamba telah bersumpah menjadi seorang brahmacharin dan ingin menuntut ilmu di bawah asuhan Yang Mulia Mahaguru.

Sesuai adat, seorang guru yang bijaksana tidak boleh menolak murid yang ingin berguru kepadanya. Maka Mahaguru Sukra berkata, Kacha, engkau adalah keturunan keluarga baik-baik. Aku terima kau sebagai muridku.

Dan ingatlah, aku terima kau karena aku ingin menunjukkan hormatku kepada Resi Wrihaspati, ayahmu.

Demikianlah, Kacha pun menjadi murid Mahaguru Sukra. Semua tugas kewajiban yang diberikan oleh gurunya dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Salah satu tugasnya adalah menghibur putri Mahaguru Sukra yang bernama Dewayani.

Mahaguru itu hanya memiliki seorang anak. Tak heran, Dewayani menjadi tumpahan kasih sayangnya. Semua keinginannya selalu dikabulkan.

Kacha diperintahkan menghibur Dewayani dengan menyanyi, menari atau mengajaknya bermain. Lama kelamaan, Kacha tertarik kepada putri itu. Tetapi, karena ia telah bersumpah menjadi brahmacharin yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk belajar ilmu agama di bawah bimbingan seorang guru dan mengamalkan segala kebajikan hidup tanpa menikah, ia menahan diri dan berusaha keras untuk tidak melanggar sumpahnya.



Usaha Pembunuhan Kacha

Sementara itu, para raksasa yang mengetahui bahwa pemimpin mereka mengambil anak Wrihaspati sebagai murid merasa cemas dan curiga. Jangan-jangan niat Kacha tidak tulus berguru. Jangan-jangan sebenarnya Kacha ingin mencari kesempatan untuk membujuk gurunya agar memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwani.

Karena itu, mereka berunding, mencari akal untuk membunuh Kacha.

Pada suatu hari, seperti biasa Kacha menggembalakan sapi-sapi gurunya ke padang rumput. Tiba-tiba datang beberapa raksasa, mereka menyergapnya lalu membunuhnya.

Mayat Kacha dicincang dan dibiarkan menjadi makanan anjing.

Sore harinya, sapi-sapi itu pulang ke kandang tanpa Kacha. Dewayani yang melihat hal itu merasa cemas. Ia segera menemui ayahnya.

Sambil menangis tersedu-sedu Dewayani berkata,
"Matahari telah terbenam, dan pedupaan untuk pemujaan malam Ayahanda telah dinyalakan, tetapi Kacha belum pulang. Sapi-sapi gembalaannya sudah pulang ke kandang. Ananda khawatir kalau-kalau sesuatu yang buruk menimpa Kacha. Tolonglah dia, Ayah. Ananda sangat mencintainya dan tak dapat hidup tanpa dia."

Mendengar permohonan putri kesayangannya, Mahaguru Sukra segera mengucapkan mantra. Dengan kesaktiannya, ia tahu Kacha sudah mati. Karena itu, untuk menghidupkan kembali dan memanggil pemuda itu, ia mengucapkan mantra gaib Sanjiwani.

Seketika itu Kacha hidup kembali dan berada di hadapan mereka dengan wajah tersenyum. Dewayani bertanya, mengapa ia terlambat pulang. Kacha bercerita, ia diserang dan dibunuh para raksasa ketika sedang menggembalakan sapi. Tetapi, bagaimana ia bisa hidup kembali dan berada di hadapan mereka, ia tidak bisa menerangkannya.

Para raksasa kecewa melihat Kacha hidup kembali. Mereka terus memata-matai pemuda itu, mencari kesempatan untuk membunuhnya.

Suatu hari, Kacha pergi ke hutan, mencari bunga yang langka untuk Dewayani. Ketika sedang berada di dalam hutan lebat, ia disergap para raksasa lalu dibunuh. Mayatnya dicincang, dibakar, lalu abunya dibuang ke laut.

Berhari-hari Dewayani menunggu, tetapi Kacha tak pulang-pulang. Akhirnya putri itu menghadap ayahnya dan mengadukan hal itu kepadanya.

Sekali lagi, Resi Sukra menggunakan ilmu gaib Sanjiwani dan memanggil Kacha. Pemuda itu hidup kembali.

Demikian Kisah Ilmu Gaib Sanjiwini Bagian I, untuk mengetahui kelanjutan kisah Kacha dalam usahanya mempelajari ilmu gaib Sanjiwini, Baca di bagian II.

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Ki Nartosabdo Dalang Legendaris Indonesia

Ki Nartosabdo Dalang Legendaris  Indonesia – Pada era 70-an adalah masa kejayaan Ki Nartosabdo sebagai seorang Dalang yang namanya sangat terkenal di Indonesia. Tata bahasanya, Sabetan Wayang, kritik dan guyonan serta tuntunan yang diberikan pada setiap lakon wayang yang dimainkannya membuat orang-orang mampu bertahan semalam suntuk untuk menyaksikan pertunjukkannya.

Ki Nartosabdo Dalang Legendaris  Indonesia

Ki Nartosabdo lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 – meninggal di Semarang, 7 Oktober 1985 pada umur 60 tahun) adalah seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu dalang ternama saat ini, yaitu Ki Manteb Soedharsono mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan belum tergantikan sampai saat ini.

Asal-usul

Nama asli Ki Nartosabdo adalah Soenarto. Merupakan putra seorang perajin sarung keris bernama Partinoyo. Kehidupan masa kecilnya yang serba kekurangan membuat Soenarto putus sekolah dalam pendidikan formalnya, yaitu Standaard School Muhammadiyah atau SD 5 tahun.

Kehidupan ekonomi yang serba sulit membuat Soenarto bekerja membantu pendapatan keluarga melalui bakat seni yang ia miliki. Antara lain ia pernah menjadi seorang pelukis, juga sebagai pemain biola dalam orkes keroncong Sinar Purnama. Bakat seni tersebut semakin berkembang ketika Sunarto dapat melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Pada tahun 1945 Soenarto berkenalan dengan pendiri grup Wayang Orang Ngesti Pandowo, yaitu Ki Sastrosabdo. Sejak itu ia mulai mengenal dunia pedalangan di mana Ki Sastrosabdo sebagai gurunya.

Bahkan karena jasa-jasanya membuat banyak kreasi baru bagi grup tersebut, Soenarto memperoleh gelar tambahan "Sabdo" di belakang nama aslinya. Gelar itu diterimanya pada tahun 1948, sehingga sejak saat itu namanya berubah menjadi Nartosabdo.

Riwayat Karier

Meskipun berasal dari Jawa Tengah, namun Ki Nartosabdo muncul pertama kali sebagai dalang justru di Jakarta, tepatnya di Gedung PTIK yang disiarkan secara langsung oleh RRI pada tanggal 28 April 1958. Lakon yang ia tempilkan saat itu adalah Kresna Duta. Pengalaman pertama mendalang tersebut sempat membuat Ki Narto panik di atas pentas karena pada saat itu pekerjaannya yang sesungguhnya ialah pengendhang grup Ngesti Pandowo.

Ki Narto sejak remaja sudah menggemari para dalang ternama, seperti Ki Ngabehi Wignyosoetarno dari Sala dan Ki Poedjosoemarto dari Klaten. Ia juga tekun membaca berbagai buku tua. Kepala Studio RRI waktu itu, Sukiman menawari Ki Narto untuk mendalang, sehingga jadilah pertunjukan di PTIK tersebut.

Penampilan perdana itu langsung mengangkat nama Ki Narto. Berturut-turut ia mendapat kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogya, dan seterusnya. Lahir pula cerita-cerita gubahannya, seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba.

Semua itu ia dapatkan karena banyak belajar sendiri, tidak seperti dalang lain yang pada umumnya lahir dari keturunan dalang pula, atau ada pula istilah dalang kewahyon (mendapat wahyu).

Karena sering mementaskan lakon carangan Ki Narto pun sering mendapat banyak kritik. Ia juga dianggap terlalu menyimpang dari pakem, antara lain berani menampilkan humor sebagai selingan dalam adegan keraton yang biasanya kaku dan formal. Namun kritikan-kritikan tersebut tidak membuatnya gentar, justru semakin banyak berkarya.

Ki Nartosabdo dapat dikatakan sebagai pembaharu dunia pedalangan pada tahun 80-an. Gebrakannya dalam memasukkan gending-gending ciptaannya membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota memboikot hasil karyanya. Meskipun demikian dukungan juga mengalir antara lain dari dalang-dalang muda yang menginginkan pembaharuan di mana seni wayang hendaknya lebih luwes dan tidak kaku.

Selain sebagai dalang ternama, Ki Narto juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gendhing, antara lain Caping Gunung, Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Prahu Layar, Ngundhuh Layangan, Aja Diplèroki, dan Rujak Jeruk.

Murid

Beberapa murid dari Ki Nartosabdo adalah:
  • Ki Manteb Soedharsono, dalang
  • Jaya Suprana, pianis dan komposer

Demikian sekilas profil Dalang dari Ki Nartosabdo Dalang Legendaris  Indonesia yang namanya belum tergantikan sampai saat ini.
Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti