Mengapa Arjuna Keluarnya Malam Hari?

Mengapa Arjuna Keluarnya Malam Hari? - Dalam pertunjukan wayang kulit dengan berbagai lakon terutama dalam kisah Mahabharata, ada seorang tokoh ksatria, biasanya adalah Arjuna yang keluarnya pada malam hari yaitu pada adegan perang kembang. Mengapa ?

Pasti ada alasannya.

Arjuna dalam kisah pewayangan adalah seorang ksatria yang tampan, rupawan dan memiliki kesaktian yang tinggi. Disamping itu, Arjuna adalah seorang yang gemar melakukan topobroto untuk menambah kesaktiannya dan mencari guru yang sakti guna menambah ilmu dan wawasannya.

Mengapa Arjuna Keluarnya Malam Hari?
Gambar : Indraprasetya76

Arjuna merupakan sosok lelaki yang sempurna, tampan dan sakti, sehingga para dewata menjulukinya sebagai 'lelananging jagad' atau lelaki terhebat di dunia.

Tapi tahukah anda apabila Arjuna juga memiliki kekurangan?

Sungguh hebat pujangga yang menciptakan tokoh Arjuna ini, beliau tidak menciptakan sosok super hero yang tanpa cela melainkan sosok manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Omong-omong apa kekurangan Arjuna?

Kekurangan Arjuna adalah sifatnya yang mata keranjang. Arjuna adalah sosok lelaki yang tidak dapat melihat jidat licin dan paha mulus atau wanita cantik. Tidak peduli masih bujangan atau sudah menjadi istri orang lain.

Padahal Arjuna sudah memiliki banyak istri yang semuanya cantik jelita dan sexy, tidak hanya dari golongan manusia saja bahkan ada 7 dewi atau bidadari yang menjadi istrinya seperti dalam kisah Arjuna Wiwaha.

Tapi kenapa Arjuna merasa masih kurang juga?

Menurut Kanjeng Sunan Kalijaga yang memasukkan syiar Islam dalam budaya wayang kulit, Arjuna adalah simbol dari nafsu 'Sufiyah' yaitu nafsu yang mencintai keindahan dan syahwat. Nafsu diibaratkan seperti minum air laut, semakin diminum akan semakin haus.

Demikian juga yang terjadi pada Arjuna, meskipun pernah kena batunya saat merebut istri Palgunadi hingga kalah dalam perang tanding yang termuat dalam kisah 'Palguna dan Palgunadi', namun Arjuna belum kapok juga mengejar wanita cantik.

Hingga, Ki Nartosabdo membuat suatu anekdot tentang perilaku Arjuna dalam hubungannya dengan wanita.

Seperti dalam judul artikel ini, yang berupa pertanyaan "mengapa dalam pementasan pertunjukkan wayang kulit, Arjuna keluarnya pada malam hari?"

Kunjungi Juga : www.ayodolenrek.com

Arjuna Keluar Pada Malam Hari

Pada babak pementasan pertunjukan wayang kulit, setelah terjadinya 'perang gagal' yaitu pertemuan antara ksatria dengan raksasa atau pandawa dengan kurawa yang berujung saling menghindar sehingga tidak jadi perang.

Maka kira-kira jam 3 malam, giliran 'perang kembang' yaitu peperangan antara ksatria, biasanya Arjuna atau bambang-bambang yang lain, melawan para raksasa seperti buto cakil, raksasa rambut geni dan lain-lain.

Makna yang tersirat sebenarnya adalah perang seorang ksatria melawan nafsunya sendiri yang diwujudkan dalam bentuk berbagai raksasa.

Namun oleh Ki Nartosabdo makna tersebut diplesetkan menjadi semacam guyonan.

Arjuna keluar pada malam hari karena ingin menyalurkan hobinya yaitu mengejar wanita cantik. Dan, keluarnya Arjuna selalu diikuti oleh empat punakawan yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

1. Semar diplesetkan menjadi 'mesem e ndek kamar'. Karena saat bertemu dengan wanita cantik, Arjuna mengajaknya ke kamar lalu 'mesam-mesem' di dalam kamar untuk merayu wanita itu.

2. Gareng menjadi 'barang sing sigare miring' atau kemaluan wanita yang menjadi sarana melakukan olah asmara.

3. Petruk menjadi 'kecepit jeruk', dalam olah asmara antara lelaki dan perempuan atau 'adu kelamin' kata orang Batak, kelamin laki-laki terjepit dalam kelamin wanita atau 'jeruk'.

4. Bagong menjadi 'obahing bokong', itulah adegan yang terjadi dalam olah asmara yaitu gerakan bokong atau pantat yang naik-turun.

Sehingga ketika Arjuna keluar pada malam hari diikuti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, dimaknai Arjuna sedang melakukan pertemuan dengan wanita lalu melakukan olah asmara.

Demikian penjelasan dan jawaban dari pertanyaan Mengapa Arjuna Keluar Pada Malam Hari? Jika anda mempunyai pendapat lain dan tidak setuju dengan isi artikel ini, silahkan isi komentar dibawah ini.

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Mahabharata : Epos Terbesar Sepanjang Masa Bagian II

Mahabharata : Epos Terbesar Sepanjang Masa Bagian II - Apabila selama ini kita mengira bahwa kisah Ramayana dan Mahabarata hanyalah milik orang India atau Indonesia atau bangsa Asia saja ternyata dugaan itu salah. Epos Ramayana dan Mahabharata telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia seperti Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Turki dan lain-lain sehingga epos-epos tersebut sudah menjadi kekayaan sastra dunia.

Seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, kisah Mahabharata sebagai Epos Terbesar Sepanjang Masa, mengalami tambahan-tambahan dari berbagai pengarang-penyair dari masa ke masa. Namun demikian, inti pokok uraiannya tidak perlu diragukan merupakan basis kenyataan-kenyataan dalam tradisi Hindu di jaman dahulu.
Mahabharata : Epos Terbesar Sepanjang Masa Bagian II
Bharata Yuda, Gambar : Kwikku
Kisah Mahabharata suatu Epos Terbesar Sepanjang Masa, dalam bentuknya yang sekarang, jika dibaca secara keseluruhan, mengandung berbagai dongeng, legenda (purana), mitos, falsafah, sejarah (itihasa), kosmologi, geografi, geneologi, dan sebagainya.

Karena banyaknya tambahan di sana-sini, maka epos Mahabharata ini juga dipandang sebagai puisi berisi ajaran kebajikan yang ditulis dalam metrum India (kavya), sebagai sloka yang berisi ajaran budi pekerti (sastra), atau sebagai kitab yang berisi sejarah, ilmu pengetahuan dan ajaran lain (sruti). Ringkasnya, Mahabharata juga bisa dianggap sebagai semacam ensiklopedia.

Dalam bentuknya yang kita kenal sekarang, epos Mahabharata adalah naskah yang lebih besar dibandingkan kitab-kitab suci Weda. Menurut Prof. Heinrich Zimmer, isi Mahabharata delapan kali lebih besar daripada Odyssey and Illiad.

Berbagai manuskrip tersebar dari Timur Tengah sampai Indonesia (Bali) dalam berbagai macam bahasa, antara lain: bahasa Nepali, Maithili, Bengali, Dewanagari, Telegu, Grantha dan Malayalam.

Naskah yang lebih muda kita dapati dalam bahasa Jawa Kuno (abad X), bahasa Kashmir (abad XI) dan bahasa Persia (di masa pemerintahan Akbar). Epos Ramayana danMahabharata dengan ekspresi yang lain di Indonesia ditulis dalam bahasa Jawa Kuno.

Sebagai contoh, Ramayana dan Mahabharata secara ringkas telah disusun di Jawa Timur dalam bentuk yang disebut kakawin. Beberapa kakawin yang dikenal luas adalah Ramayana, Bharatayudha,Arjunawiwaha atau Smaradahana. Kakawin-kakawin tersebut sesungguhnya bukan salinan dari karya asalnya.

Selanjutnya, secara verbal serta khas kakawin-kakawin tersebut divisualkan dalam bentuk drama/teater atau wayang yang pelaku-pelaku utamanya diambil dari epos Ramayana dan Mahabharata (misalnya Rama, Kurawa dan Pandawa) dan dilengkapi dengan tokoh-tokoh sejarah dan kesusastraan tradisional, serta tokoh-tokoh lain yang diambil dari mitos daerah di Indonesia.

The Russian Academy di Moskow telah menerbitkan terjemahan Adiparwa atau buku pertama epos Mahabharata dalam bahasa Rusia di masa Perang Dunia II. Episode dan bagian-bagian tertentu epos Mahabharata juga diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, Inggris dan Jerman.

18 Parwa Mahabharata

Dalam Aswalayana Srautasutra disebutkan bahwa epos Mahabharata versi awal terdiri dari 24.000 sloka. Versi tersebut terus berkembang hingga dalam bentuknya yang sekarang terdiri dari 100.000 sloka. Di bawah ini disajikan ringkasan dari delapan belas buku (parwa) epos Mahabharata:

1. Adiparwa (Buku Pengantar)

Memuat asal-usul dan sejarah keturunan keluarga Kaurawa dan Pandawa; kelahiran, watak, dan sifat Dritarastra dan Pandu, juga anak-anak mereka; timbulnya permusuhan dan pertentangan di antara dua saudara sepupu, yaitu Kurawa dan Pandawa; dan berhasilnya Pandawa memenangkan Dewi Drupadi, putri kerajaan Panchala, dalam suatu sayembara.

2.  Sabhaparwa (Buku Persidangan)

Melukiskan persidangan antara kedua putra mahkota Kaurawa dan Pandawa; kalahnya Yudhistira dalam permainan dadu, dan pembuangan Pandawa ke hutan.

3.    Wanaparwa (Buku Pengembaraan di Hutan)

Menceritakan kehidupan Pandawa dalam pengembaraan di hutan Kamyaka. Buku ini buku terpanjang; antara lain memuat episode kisah Nala dan Damayanti dan pokokpokok cerita Ramayana.

4.    Wirataparwa (Buku Pandawa di Negeri Wirata)

Mengisahkan kehidupan Pandawa dalam penyamaran selama setahun di Negeri Wirata, yaitu pada tahun ketiga belas masa pembuangan mereka.

5.    Udyogaparwa (Buku Usaha dan Persiapan)

Memuat usaha dan persiapan Kurawa dan Pandawa untuk menghadapi perang besar di padang Kurukshetra.

6.    Bhismaparwa (Buku Mahasenapati Bhisma)

Menggambarkan bagaimana balatentara Kurawa di bawah pimpinan Mahasenapati Bhisma bertempur melawan musuh-musuh mereka.

7.    Dronaparwa (Buku Mahasenapati Drona)

Menceritakan berbagai pertempuran, strategi dan taktik yang digunakan oleh balatentara Kaurawa di bawah pimpinan Mahasenapati Drona untuk melawan balatentara Pandawa.

8.    Karnaparwa (Buku Mahasenapati Karna)

Menceritakan peperangan di medan Kurukshetra ketika Karna menjadi mahasenapati balatentara Kaurawa sampai gugurnya Karna di tangan Arjuna.

9.    Salyaparwa (Buku Mahasenapati Salya)

Menceritakan bagaimana Salya sebagai mahasenapati balatentara Kaurawa yang terakhir memimpin pertempuran dan bagaimana Duryodhana terluka berat diserang musuhnya dan kemudian gugur.

10.    Sauptikaparwa (Buku Penyerbuan di Waktu Malam)

Menggambarkan penyerbuan dan pembakaran perkemahan Pandawa di malam hari oleh tiga kesatria Kurawa.

11.    Striparwa (Buku Janda)

Menceritakan tentang banyaknya janda dari kedua belah pihak yang bersama dengan Dewi Gandhari, permaisuri Raja Dritarastra, berdukacita karena kematian suami-suami mereka di medan perang.

12.    Shantiparwa (Buku Kedamaian Jiwa)

Berisi ajaranajaran Bhisma kepada Yudhistira mengenai moral dan tugas kewajiban seorang raja dengan maksud untuk memberi ketenangan jiwa kepada kesatria itu dalam menghadapi kemusnahan bangsanya.

13.    Anusasanaparwa (Buku Ajaran)

Berisi lanjutan ajaran dan nasihat Bhisma kepada Yudhistira dan berpulangnya Bhisma ke surgaloka.

14.    Aswamedhikaparwa (Buku Aswamedha)

Menggambarkan jalannya upacara Aswamedha dan bagaimana Yudhistira dianugerahi gelar Maharaja Diraja.

15.    Asramaparwa (Buku Pertapaan)

Menampilkan kisah semadi Raja Dritarastra, Dewi Gandhari dan Dewi Kunti di hutan dan kebakaran hutan yang memusnahkan ketiga orang itu.

16.    Mausalaparwa (Buku Senjata Gada)

Menggambarkan kembalinya Balarama dan Krishna ke alam baka, tenggelamnya Negeri Dwaraka ke dasar samudera, dan musnahnya bangsa Yadawa karena mereka saling membunuh dengan senjata gada ajaib.

17.    Mahaprashthanikaparwa (Buku Perjalanan Suci)

Menceritakan bagaimana Yudhistira meninggalkan takhta kerajaan dan menyerahkan singgasananya kepada Parikeshit, cucu Arjuna, dan bagaimana Pandawa melakukan perjalanan suci ke puncak Himalaya untuk menghadap Batara Indra.

18.    Swargarohanaparwa (Buku Naik ke Surga)

Menceritakan bagaimana Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, Sahadewa dan Draupadi sampai di pintu gerbang surga, dan bagaimana ujian serta cobaan terakhir harus dihadapi Yudhistira sebelum ia memasuki surga.

Selain delapan belas parwa tersebut, sebuah suplemen yang disebut Hariwangsa ditambahkan kemudian. Suplemen ini memuat asal-usul kelahiran dan sejarah kehidupan Krishna secara panjang lebar. Tetapi berdasarkan penelitian, buku ini ternyata mengacu pada data yang masanya jauh sekali dari masa kehadiran parwa-parwa itu.

Dilihat dari segi kesusastraan, epos Mahabharata memiliki sifat-sifat dramatis. Tokoh-tokohnya seolah-olah nyata karena perwatakan mereka digambarkan dengan sangat hidup, konflik antara aksi dan reaksi yang berkelanjutan akhirnya selalu mencapai penyelesaian dalam bentuk kebajikan yang harmonis.

Kesimpulan

Nafsu melawan nafsu merupakan kritik terhadap hidup, kebiasaan, tatacara dan cita-cita yang berubah-ubah. Dasar-dasar moral, kewajiban dan kebenaran disampaikan secara tegas dan jelas dalam buku ini. Menurut Mahatma Gandhi, konflik abadi yang ada dalam jiwa kita diuraikan dan dicontohkan dengan sangat jelas dan membuat kita berpikir bahwa semua tindakan yang dilukiskan di dalam Mahabharata seolaholah benar-benar dilakukan oleh manusia.

Pentingnya epos Mahabharata dapat kita ketahui dari peranan yang telah dimainkannya dalam kehidupan manusia.

Lima belas abad lamanya Mahabharata memainkan peranannya dan dalam bentuknya yang sekarang epos ini menyediakan kata-kata mutiara untuk persembahyangan dan meditasi; untuk drama dan hiburan; untuk sumber inspirasi penciptaan lukisan dan nyanyian, menyediakan imajinasi puitis untuk petuah-petuah dan impian-impian, dan menyajikan suatu pola kehidupan bagi manusia yang mendiami negeri-negeri yang terbentang dari Lembah Kashmir sampai Pulau Bali di negeri tropis.

Epos Mahabharata telah meletakkan doktrin dharma yang menyatakan bahwa kebenaran bukan hanya milik satu golongan dan bahwa ada banyak jalan serta cara untuk melihat atau mencapai kebenaran karena adanya toleransi.

Epos Mahabharata mengajarkan bahwa kesejahteraan sosial harus ditujukan bagi seluruh dunia dan setiap orang harus berjuang untuk mewujudkannya tanpa mendahulukan kepentingan pribadi. Itulah dharma yang diungkapkan epos Mahabharata sebagai sumber kekayaan rohani atau dharmasastra.

Sumber : Nyoman S. Pendit

Wayang Kulit : Kesenian Asli Indonesia Yang Masih Lestari

Wayang Kulit : Kesenian Asli Indonesia Yang Masih Lestari – Wayang khususnya wayang kulit merupakan salah satu kesenian asli Indonesia yang masih tetap lestari sampai sekarang ini meskipun semakin bergeser nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Jika dahulu, wayang kulit adalah pertunjukan kesenian yang memberikan ‘tuntunan’ kepada penontonnya maka pada jaman sekarang ini, wayang kulit tidak lebih hanya sebuah ‘tontonan’ atau hiburan belaka.
Wayang Kulit : Kesenian Asli Indonesia Yang Masih Lestari
Wayang Kulit

Dalang yang memegang pakem atau aturan baku pewayangan dimana bobot antara ‘tuntunan’ lebih besar daripada ‘tontonan’ akan lebih sedikit peminatnya dibandingkan dengan dalang yang lebih menonjolkan ‘tontonan’, dalang seperti ini yang akan laris manis di pasaran dan banyak penontonnya.

Meskipun demikian, Wayang Kulit  sampai sekarang masih tetap ada dan tetap lestari walau hanya dapat kita tonton pada hari-hari besar nasional atau pada hajatan perkawinan atau disiarkan oleh televise swasta pada hari-hari tertentu.

Untuk itu, saya mencoba menghadirkan blog Pewayangan Indonesia ini sebagai media untuk melestarikan budaya wayang kulit kepada generasi muda. Pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar akan memudahkan pembaca dari suku diluar Jawa untuk lebih memahami dan mengerti cerita-cerita yang disampaikan.

Makna Wayang

Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti "bayangan". Jika ditinjau dari arti filsafatnya "wayang" dapat diartikan sebagai bayangan kehidupan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.

Wayang Kulit : Kesenian Asli Indonesia Yang Masih Lestari

Kisah kolosal Harjunasasrabahu, Ramayana, Mahabarata dan Baratayudha sampai jaman keemasan Parikesit adalah sebuah kisah karya pujangga yang sering dipentaskan dalam pertunjukkan wayang kulit.

Kisah dalam dunia pewayangan dapat membuat kita selalu bercermin dan mawas diri.

Kisah Ramayana dan Mahbarata, pertama kali dituliskan oleh pujangga India, kemudian pujangga-pujangga Jawa seperti Mpu Kanwa, Mpu Prapanca, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, menuliskannya kembali dalam versi Jawa.

Kisah dalam lakon pewayangan tak ubahnya seperti kehidupan manusia dalam kehidupan nyata, selalu saja bertemu antara kebaikan dan keburukan, kebajikan dan ketamakan serta segala sesuatu yang berpasangan namun bertentangan.

Dalam kisah Ramayana, Rahwana atau Dasamuka menjadi symbol sikap angkara atau kejahatan sedangkan Rama adalah symbol dari kebajikan. Demikian juga dalam kisah Mahabarata, Kurawa adalah simbol dari nafsu angkara dan Pandawa adalah simbol Kebaikan dalam diri manusia. Keduanya bertemu dan berperang hingga akhirnya hanya ada satu pemenang, kebanyakan kebaikan yang selalu menang seperti kalimat yang selalu diucapkan oleh sang Dalang pada akhir pertunjukan.

“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang artinya kejahatan akan selalu dikalahkan oleh kebaikan.

Wayang adalah salah satu kesenian yang bertutur tentang kehidupan lebih dari sepuluh generasi, ribuan tokoh dan karakter. Tempat berinteraksinya beberapa ras atau bangsa, bangsa dewa, bangsa manusia, bangsa ular, bangsa kera, bangsa samudra, bangsa raksasa, bangsa gandarwa, bangsa jin, bangsa banaspati, yang kesemuanya hidup dalam satu dunia, dunia wayang.

Sejak kecil, kisah-kisah dunia wayang selalu memberikan saya inspirasi dan obsesi tersendiri.
Memberikan ide kepada saya untuk mencoba melihat dan menyelami masing masing tokoh dan karakter secara individu. Kisah tentang keteladanan, kemarahan, kesendirian, kecongkakan, kejujuran, integritas, pengorbanan, kebijaksanaan, kebimbangan, dendam, kekecewaan dan pencarian. Tersaji menjadi semacam sebuah novel.

Pertunjukan Wayang Kulit

Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera, wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh  beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang  waranggana sebagai penyanyinya.

Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.

Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya  pertunjukan secara keseluruhan. Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan.  Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut.

Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus mengerti tentang gending (lagu).

Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan  wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan  wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang.

Dalam pertunjukan wayang dikenal kelompok kanan dan kelompok kiri. kelompok kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan kelompok kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka. Walaupun demikian ketentuan ini tidak mutlak.

Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa Gunungan.

Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya. Ia dibatasi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah:

1.  Jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peraga

Jenis wayang akan mempengaruhi lakon yang bisa disajikan lewat wayang-wayang tersebut. Seperangkat wayang kulit misalnya hanya dapat dipakai untuk memainkan ceritera-ceritera dari Mahabarata atau Ramayana. Wayang kulit tidak bisa di pakai untuk menampilkan babad Menak.

Sebaliknya perangkat wayang golek tidak dapat digunakan untuk melakonkan ahabarata, ini dikarenakan tokoh tokoh yang ada dalam wayang-wayang tersebut memang sudah dibuat untuk pementasan lakon-lakon (ceritera-ceritera) tertentu.

2. Kepercayaan masyarakat sekitarnya

Dalam suatu masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat peninggalan para leluhurnya, banyak kita jumpai pantangan-pantangan atas suatu lakon tertentu untuk pertunjukan wayang.

Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan. Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan. Entah akan ada anggota keluarga yang meninggal, akan terjadi perceraian dalam keluarga tersebut, atau malapetaka lainnya.

Di daerah-daerah pedesaan juga masih banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang diselenggarakan dengan pertunjukan wayang. Untuk suatu upacara tertentu, lakon wayang yang dipentaskan juga tertentu.

Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, lakon yang harus dipertunjukkan adalah "Kondure Dewi Sri" (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara ngruwat lakonnya adalah "Murwa Kala" atau "Durga Ruwat".

Baca Juga : Misteri Ruwatan Dalam Tradisi Jawa

3. Keperluan diadakannya pertunjukan tersebut

Selain batasan-batasan ini lakon wayang sering kali juga ditentukan oleh permintaan penanggap atau atas kesepakatan antara pihak dalang dan penanggap wayang.

Asal-usul Wayang Kulit

Mengenai asal mula timbulnya wayang di Indonesia pendapat dari beberapa ahli dapat digunakan sebagai pedoman untuk memaparkan hal ini. Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat disampaikan oleh Sri Mulyono.

Mengenai timbulnya pertunjukan wayang ini Sri Mulyono berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas / peralatannya yang serba sederhana, yang pada garis besarnya sama dengan  yang sekarang kita lihat, yaitu dengan menggunakan wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong, kepyak, kotak dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan berasal dan merupakan hasil karya orang Indonesia asli di Jawa, sedangkan timbulnya jauh sebelum kebudayaan Hindu datang.

Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju "Hyang", dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya.

Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas.

Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman Neolithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM. Dalam perkembangannya kemudian upacara ini dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut dalang.

Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan wayang kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan.

Berkenaan dengan perkembangan kesenian wayang ini sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, Yogyakarta telah memberikan tempat hidup yang subur bagi kesenian wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah dalang Habiranda pada tahun 1925 di kota ini.

Kini para dalang lulusan sekolah Habiranda banyak tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat Jawa, ternyata ada beberapa jenis yaitu: Wayang Kulit/

Demikian ulasan tentang wayang kulit sebagai salah satu kesenian asli Indonesia yang sampai sekarang masih bertahan ditengah gencarnya serbuan tontonan dan seni budaya dari manca Negara.

Sumber : Berbagai sumber